Agar Cinta Itu Terus Ke Syurga…


-بسم الله الرحمن الرحيم-

 

Awalan Cerita Itu

Muhammad Faris Nasir

Muhammad Faris Nasir

Hidayah

Noor Hidayah Abd Rahman

Tiada ungkapan yang terbaik selain lafaz syukur ke hadrat Ilahi atas ikatan suci yang terbina ini. Semuanya bagaikan terlalu pantas, namun inilah takdir cinta aturan Yang Kuasa. Termetrai ikatan ini dengan sekali lafaz yang menghapuskan segala pemisahan antara Aku dan Dia… Haram menjadi Halal… Semuanya bak indah belaka… namun harus diingat hidup ini bagai roda yang berputar… Bermulanya sebuah ceritera cinta yang halal bagi kamiAlhamdulillah… 

 

Ku syukuri atas nikmat ini, kerana ia bisa menjadi batu loncatan kepadaku menuju syurga indah. Seandainya aku laksanakan apa yang sepatutnya sebagai isteri yang solehah…itu janjiku atas diriku…Maha Suci Allah yang mengetahui tiap2 perkara dalam hati manusia… Maka begitu juga, Dia Maha Mengetahui rasa cintaku terhadap zaujku tanpa melebihi cinta hakiki ku… Moga cinta antara kami subur dengan rahmat dan redha Ilahi…

Temetrainya sebuah janji..

Temetrainya sebuah janji..

Hadiah seutas gelang emas daripada zauj tercinta...

Hadiah seutas gelang emas daripada zauj tercinta…

Bahtera Rumah Tangga

DSC_0087

Adat alam rumah tangga, seperti air laut ada pasang dan surutnya. Inilah menuntut kesabaran dan toleransi antara suami dan isteri, aku dan dia. Kematangan dalam menguruskan konflik sangat penting bagi mengelakkan sebarang kekeruhan dan suasana dingin… Ya Allah, bimbinglah kami menempuh alam baru ini, moga tidak tersasar dalam kawalan nafsu dan bisikan syaitan durjana. Matang dan bersedia mental dan spiritual utamanya

Proses taaruf suami dan isteri berterusan biarpun sudah bertahun2 berkahwin, biarpun sudah berpuluh tahun sebumbung, sebilik dan sebantal. Betapa indahnya perkenalan itu andai ia membuatkan kita suami isteri bertambah cinta, sayang dek kerana saling melengkapi. Begitulah resamnya suami dan isteri hasil perancangan hebat Ilahi, berasa tenang dan tenteram jika bersama. Semoga dialah peneman Awalan dan Akhiran ku…Muhammad Faris bin Nasir, suamiku. Moga kita saling mengingati dan saling bertolak ansur agar rumah tangga sentiasa rukun dan damai.

 

DSC_0183

majlis umah b

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian isteri-isteri dari diri kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar-Rum [30]: 21)

Aku mencintainya kerana Allah, Maka itu aku juga ingin bersama-samanya ke jalan Syurga…

Kasihku Amanahku

 

Ya, ini hanya sebuah lirik lagu, tapi andai bait-bait liriknya difahami dan diteliti banyak butir-butir mutiara yang berguna untuk panduan sebagai suami dan isteri.

Ayuh….

Pernikahan menyingkap tabir rahsia
Suami isteri inginkan keluarga yang bahagia 
Dan mengharapkan sebuah bahtera indah 
Untuk bersama belayar ke muara 

Pernikahan, menginsafkan kita 
Perlunya iman dan takwa, meniti sabar dan redha 
Bila masa senang syukuri nikmat Tuhan
Susah mendatang tempuhi dengan tabah

Isteri janji telah dipateri
Diijab kabulkan dan dirahmati
Detik pertemuan dan pernikahan
Yang dihujani air mata kasih
Demi syurga Ilahi

C/o 
Suami jangan menagih setia
Umpama Hajar dan setianya Zulaikha
Terimalah seadanya yang terindah
Di lubuk hatimu 
Isteri adalah amanah buatmu

Pernikahan mengajar tanggungjawab bersama suami dan isteri 

Isteri hamparan dunia
Suami langit penaungnya
Isteri ladang tanaman
Suamilah pemagarnya
Isteri bagai kejora
Suami menjadi purnama
Tika isteri beri hempedu 
Suami tabah menelannya

Tika suami terteguk racun 
Isteri carilah penawarnya
Sungguh isteri rusuk yang rapuh
Berhati-hatilah meluruskannya
by: In-Team


Sesungguhnya, fasa perkahwinan dan alam rumah tangga merupakan medan yang luas untuk menimba seberapa banyak ilmu Allah yang Maha Luas. Lahirnya manusia yang hebat juga terhasil daripada manusia yang hebat.

Ayuh! Jadilah suami dan isteri yang hebat! Jadilah Ibu dan Bapa yang hebat! Kelak akan terlahirnya Insan yang Hebat! Yang mampu menyumbang untuk Agama Allah! InsyaAllahu Ta’ala…. 

Till Jannah... <3

Till Jannah…❤

Wassalam.

p/s: “Warming up” post setelah kian lama tak update. =)

Wahai Pemilik Hati…


Bersabarlah Wahai Hati, Allah Pasti Memberikan Yang Terindah Buatmu…. Bersabarlah sekejap sahaja lagi… Yakinlah dengan Janji Rabb mu… (^_^)…

…………. ***………………***……………..***……………..***……………..***……………

Best Idea on Pengembara Di JalanMU

“Dua Alam Berbeza”….Penuhi Dengan Mujahadah~~


بسم الله الرحمن الرحيم

After a long time I not update my blog… coz of life always ‘buzy’, then I should do what should first and I shouldn’t do what shouldn’t not do first…

3 tahun selepas menamatkan pengajian di peringkat degree BS Biotechnology in UPM, felt like juz a few month in UPM… Inilah yang dikatakan dunia akhir zaman. Semakin lama Allah semakin menarik nikmat dan berkat masa itu sendiri. Atas alasan apa? Ini kerana atas sikap manusia sendiri yang terlalu banyak melakukan maksiat dan dosa… include me, myself…. 

When I talked about ‘2 Alam Berbeza’ is actually between ‘Alam Belajar dan Alam Pekerjaan’… It’s totally different, and honestly if  people ask me, which era that u love the most? Of course, I love ‘Life Campus’ the most.. But then it can’t be happen bcoz life must be go on… This is the ‘ True Colour’ of human being. Both study and work have their own responsibilities and commitments. We can’t avoid it.. is’t right? Tepuk dada, tanya Iman..

And we back to the faith of human in this world : Allah stated in Al-quran several times ;

1) Firman Allah swt. maksudnya: “Ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat, bahawa Aku akan jadikan khalifah di muka bumi“. (al-Baqarah: 30)

2) Firman Allah swt. maksudnya: “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia itu melainkan untuk beribadah kepadaKu”. (az-Zariaat: 56)

KNOWLEDGES VS LIFE (CAMPUS OR REAL LIFE)

People always said that, university is a place where we should learn/get knowledge especially from the class itself, but then when we talked about ‘knowledge’ , everything that we faced and learned formally or informally is knowledge. That’s people’s perception.. We should correct it. 

Campus life is juz like a ‘training stage’ before we enter the ‘real world’ out there. And , we really need to train ourself obviously to prevent any ‘culture shock syndrome’…  Campus life practices is only <50% of real life.. 

Then, we should prepare ourself wisely… From university I learned many things those related to academic, religion, social life, business, and etc. Thanks to Allah for giving us these chances. But the most important thing, how we can relate all those things to make us become more ‘faith and fear’ to Allah? Whoever we are, all are come from Him and later all are back Him. Don’t forget this. Actually ‘The more we learn, the more we don’t know’ because the knowledge of Allah is very wide. 

There are many dalil from Al-quran  to emphasize the important of knowledge;

1) “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah SWT melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah SWT menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar” (QS 4 : 95)

2) “Allah akan meninggikan (mengangkat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan beberapa derajat” (QS 58 : 11)

3) “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; itulah keberuntungan yang besar” (QS 85 : 11)

The important of knowledge strengthen by having many dalil from hadis;

1) ”Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim lelaki dan Muslim perempuan” (HR Ibnu Majah)

2) “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Bukhari dan Muslim)

3) “Satu orang berilmu lebih ditakuti syaithan daripada seribu ‘abid (ahli ibadah)” (HR Tirmidzi)

But then, the most scary part , when we have many knowledge and we not deliver and spread the knowledge to other people or we forgot the responsibilities as khalifah to do ‘dakwah’ using the knowledge that we have.. THIS IS A STRONG REMINDER ESPECIALLY TO MYSELF. 

Let’s see the dalil to show the truth what I said above;

1) “Seorang alim (berpengetahuan) yang tidak beramal (mengamalkan ilmunya) seperti lampu yang membakar dirinya sendiri” (HR Ad-Dailami)

2) “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lalu dirahasiakannya maka dia akan datang pada hari kiamat dengan kendali di mulutnya dari api neraka” (HR. Abu Daud)

3) “Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya” (HR Al-Baihaqi)

I always heard people said that, ‘TAK NAK LAH SAMPAIKAN ILMU BANYAK2 KAT ORANG,SEBAB NATI DIRI SENDIRI PUN TAK BUAT GAK’…

Come on guys… don’t forget responsibilities of ‘dakwah’ is for everyone… Check again our intention in everything we do. At least, when we delivered our knowledge to people, it’ll motivate ourself to be more excited to practise the knowledge that we have. 

Even after we had a degree,which people always proud of. It meaningless if we not practise it…

**Erkkk… Rasanya dah lari topic ni, tajuk lain, content lain..hehe..xpela kan..? =)

and I already graduated; AND I’ll drive u to a NEW LIFE…hehe..juz kidding…

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Now, when I already start to be in ‘real life’ , it’s totally different, and really I miss my ‘life campus’ a lot ; LOL…

Here,for me  MUJAHADAH is like a main ‘controller’ for us to maintain safe under Allah’s supervision. That’s is why my Facebook’s name ‘Mujahadah Ar’…(^_^)… 

MUJAHADAH acts as a ‘booster’ for me, to keep strong when faced with anything… anything… because I have ‘ALLAH’…no worries… kan???

When we start work, we have different life style, schedule, responsibilities, commitment and so on.. Of course right? And we need to be prepared for the ‘Game of Life’… Apply all the knowledge that we have with the attention to the right path or guidelines given for us as human and ‘hamba’ Allah. Challenges in real life can be anything ; wealth, position, family, husband n wife, children, properties, and etc. We should be aware to “these” things. 

In real life, we should always keep our faith up, and improve it from time to time… not without failure, but with failure we learn many things. because “The best lesson is come from failure”. Then, we wouldn’t repeat the same mistakes. 

Now, it’s the time where I discover many new things from this ‘real world’. The decision to choose a good or a bad is depend on myself and my faith. With a bundle of knowledge (is’t ?)  that I have before and now the time to apply it 100% with the right time, right situation, right place, right….. etc..=) 

After got a job, don’t forget our responsibilities for Islam. There is no reason for me to avoid this ‘job’ because actually I can contribute from many sides such as financial support, join the programmes, don’t forget Usrah(at least ok…), organize programmes and many more… This is actually special to remind myself…:'(   

All these things required a strong spirit and mujahadah… Always keep pray to Allah, to make us stay in this path… Always warning ourself if no anybody remind us… Be independent, Don’t keep rely on others people… And We and I have Allah everywhere, everytime, every…etc.

Last for this entry, the “Dua Alam Berbeza”, Penuhi Dengan Mujahadah… such a ‘deep meaning’ especially for myself.. and not forget whoever read this post… May all of you get the benefit and some review about the issue that I highlighted in this entry…InsyaAllah…

Waallahu’alam.

Wassalam 

– Pengembara Di JalanMU-

Ya Allah….


Ya Allah …Yang Maha Pengurnia…tanpa dikuniai
Wahai Yang Empunya segala kebesaran dan kemuliaan
Wahai Yang Empunya segalah kemurahan dan pemberian
Tiada Tuhan melainkan Engkau

Engkaulah Pelindung bagi sekalian pelarian
Engkaulah jua Penaung bagi yang mencari pelindungan
Engkaulah Penenteram bagi mereka yang berada di dalam ketakutan

Ya Allah kiranya aku ini tersurat pada sisi Mu
Sebagai penjahat lagi terkutuk
Sebagai terhindar dari yang jauh lagi sempit tanpa rezki dariMu

Dengan segala kebajikan yang ada pada Mu
Ya Allah Hapuskanlah dari suratanMu itu Kejahatan yang tersurat tadi
Juga kutukan yang jauh dari kebahagiaan
Termasuk penghindaranku dari sisiMu dan kesempitan hidupku

Ya Allah tetapkanlah dalam suratan Mu
Sebagai orang yang berbahagia ….sentiasa beroleh rezeki
Menerima aneka kurnia dan kebajikan

Sebenarnya Engkau Ya Tuhan telah bertitah
Titahmu adalah Hak dan Benar
Tersurat dalam kitabMu yang diturunkan
Menerusi lisan Nabi Mu yang terutus
Yang bermaksud
Allah sesukaNya Menghapus dan Menentukan Sesuatu
DisisNya sahaja terdapat IBU KITAB suratan takdir

Tuhanku dengan penyerlahan Zat Mu Yang Maha Agung
Pada malam pertengahan bulan Syaaban yang Mulia Ini
Di mana berlakunya pembahagian dan penentuan dalam setiap perkara

Hindarkanlah dariku segala petaka
Yang aku ketahuinya ataupun tidak
Bahkan apa jua yang Engkau lebih mengetahuinya dariku
Kerana Engkau jua Yang Mengetahui tentang segala-galanya

Aku mohon Rahmat Mu Duhai Tuhan Yang Maha Pengasih
Dari sekalian Yang Mengasihani
Kiranya Engkau sampaikan selawat dan salam
Pada Penghulu kami Nabi Muhammad shallalahu ’alaihi wasallam
Serta kepada para keluarga dan sekalian sahabatnya

Amin

Duhai Niqabis ….


Bermulanya Penghijrahan Jiwa

Duhai Niqabis
Alhamdulillah ini yang dikehendaki
Menyarung jilbab indah sekali
Tidak semua yang mampu lakukan sebegini
Kerana islam sanggup kau Laksanakan semua ini.

Duhai Niqabis
Bersamamu jubah dan purdah
Penutupan segala aurat
syukur alhamdulillah berpakaian mengikut syraiat
Menutupi segala yang indah adalah salah satu syarat.

Wahai Niqabis
Sarungan jasadmu adalah jilbab yang indah sekali
Wajahmu di sarungi secebis kain yang menutupi
Hanya mata yang mampu di tayangi
Kepada mereka yang ingin mengenali dirimu saat ini.

Wahai Niqabis
Pakaianmu ini melambangkan islam sejati
Bukan pakaian yang hanya dikau sinari
sebaliknya agama juga yang kau kendongkan bersama diri
Sebagai dakwah yang ingin di gelongsori
Kepada manusia akhir zaman ini.

<COPAS>

TrUe CoLoUr : WoNDerFuL MeMoriEs…


Bismillahirrahmannirrahim…

May Allah Blessed Us our life with harmony and tranquility…

With a long journey to Terengganu for attending our Naqibah’s wedding…. but then before went to final destination as planned.. we just spend the time wisely to visit Cherating’s beach…=) For taking pictures..as memories…I Love It… sweet for honeymoon..Opss…=P

Yes… They are happy family which mine … through many obstacles and journey… I learned many things about ukhwah, sacrification, struggles, peoples and etc… That what I mean for the phrase ” Pengembara Di JalanMU”…. Those things made me back to my origin.. The Most Merciful…

U-turn to Cherating after lost our way…hehe…before straightforward to Wedding ceremony…(^_^)…

Compressed few pictures… enjoyed editing them… Let’s watch!

Again, after lost the way to Kak Ti’s house for a hard and long journey… then… we arrived and immediately took our lunch bcoz we’re so hungry… ‘sound’ from stomach was sang many times…hehe..

.

.

.

Finally , the most precious moment for Kak Ti &  Ust Firdaus… Even not me, but sincerely I felt so pulse like me the one who want face with the precious moment..Maybe, one day, who knows ..(^_^)..v

.

.

.

.

Am I look excited??? hehe… no la.. juz kidding…everyone happy actually…

Finally, COngratulation for Kak Ti & Ust Firdaus, May Allah Blessed both of you and life happily until Jannah…

.
.

This slideshow requires JavaScript.

.
.
.
With this, I end my entry… ‘Life Good, Feel Good, Bless Good’
May Allah Blessed me and all of you…=)
.
.
.
Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk lelaki-lelaki yang keji, dan lelaki-lelaki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang keji, sedangkan perempuan yang baik adalah untuk lelaki yang baik, dan lelaki yang baik adalah untuk perempuan yang baik…” An-Nur:26
.
.
.
Wassalam….

Cinta Suci dari Ilahi…


“Andai rasa ini kurnia Ilahi, harapnya ia tersemat dan terpelihara agar bisa rasa ini terus suci dari noda……”

 

Tak mampu kudustai rasa ini,

Cukuplah dengan pertautan hati,

Belum masanya berhubung saban hari,

Awasi hati dan anggota, takutkan Ilahi,

Kerana Cinta Ilahi itu cinta hakiki.

 

Aduh!

Beratnya menggalas perasaan cinta,

Taktala pacaran menjadi budaya,

Mujahadah penguat hati bersemi, 

Mujurlah wahyu menunjuk  jalan, 

Jangan diikut sebahagian besar manusia.

 

Cinta bukan cinta murahan, 

Berseminya dalam hati tanpa diundang, 

Jati diri benteng pertahanan,

Cabaran komunikasi kutundukkan,

Mengawal hati formula kekuatan.

 

Ku berazam pada diri, 

Kuingin mahligai kasihku berdiri, 

Dengan ikatan pernikahan atau di syurga nanti,

Tanpa kenangan cinta yang dicemari,

Tanpa noda kemurkaan Ilahi.

 

Kuingin hadiahkan cinta suci, 

Buat insan yang ku nikahi,

Dengan Allah sebagai juri, 

Ikatan suci terpatri antara dua hati,

Bukan nilaian nafsu sendiri,

Iman dan taqwa , penguat hati nurani.

 

Inpirasi : Fatimah Syarha Mohd Nordin.

~~ Sepertinya diriku~~

 

Hidayah..kena kuat & jangan degil2..ok?


PART 1 : MIGRAIN..

Migrain juga dikenali sebagai hemikrania, perkataan Greek yang membawa maksud sebelah tengkorak. Ia juga dikenali sebagai vascular headache. Sakit kepala yang berlaku berulang, berdenyut-denyut selalunya terjadi sebelah kepala sahaja.

Ada juga yang bermula di sebelah kepala sahaja dan kemudiannya melarat kedua-dua belah kepala. Dalam kes yang teruk, migrain menyebabkan pening (nausea), muntah, cirit-birit, pengekalan cecair badan (retention of fluid) dan sensitif kepada bunyi dan cahaya.

Rawatan pencegahan diberikan kepada pesakit yang mengalami tiga atau lebih insiden sakit kepala yang teruk pada setiap bulan. Contoh ubat-ubatan yang selalu digunakan untuk rawatan pencegahan ini adalah Pizotifen, Beta Blocker, Amitryptiline dan Sodium Valporate. Kesemua ubat ini mempunyai kesan sampingan yang tersendiri. Contohnya, Pizotien boleh menyebabkan peningkatan berat badan dan Amitryptiline boleh menyebabkan sedasi iaitu kesan menenteramkan.

Cara Rawatan Islam:

Caranya ialah dengan mengambil daun misai kucing (orthosiphon stamineus).Kemudian dimasukkan ke dalam segelas air yang baru mendidih. Di minum waktu pagi dan malam sebelum tidur. Jumlah daun bergantung kepada penyakit. Sakit yang serius memerlukan jumlah daun yang lebih banyak.

Doa :

1)    Al-Fatihah

2)    Selawat Syifa’

“Allahumma sholli ‘alaa sayyidina muhammadin thibbal quluubi wadawaa ihaa wa’aa fiyatil abdaani wa syifaa iha waa nuuril abshori wadhiyo iha wa ‘alaa aalihi wassohbihi wabarik salam”

Maksud : “Ya Allah, berilah rahmat ke atas penghulu kami, Muhammad SAW, yang menyembuhkan hati-hati, penawarnya dan kesejahteraan badan, kesembuhan juga cahaya penglihatan dan berilah rahmat keberkatan dan kesejahteraan ke atas keluarga dan sahabatnya”

3)    “La yu shod da’una ‘anha walaa yunzifun”

Maksud : “Mereka tidak pening kerananya dan tidak pula mabuk”

*Pesakit perlu menjaga makanan seperti yang disarankan oleh doktor, perlu ketenangan dan cukup tidur.

*Doa dibaca pada pesakit dan bahan. Air dibuat mandi dan minum. Pesakit yang teruk hendaklah baring dengan menghalakan kepala ke arah kiblat. Zikir dgn tenang hingga air di seluruh tubuh kering sendiri atau sehingga tertidur.
Selain itu,ini antara petua lain untuk menghilangkan migrain yang anda boleh amalkan;

  1. Menghadkan pemakanan dan makan secara teratur. Perempuan yang menghadapi migrain sebelum haid perlu mengurangkan pemgambilan garam kerana garam boleh menyebabkan fluid retention.
  2. Pengurangan stress seperti senaman yang kerap dan teratur dan mengamalkan teknik-teknik untuk mengurangkan tegangan badan.
  3. Cara hidup yang lebih teratur seperti makan secara teratur dan dapatkan tidur yang cukup.
  4. Baring di tempat yang gelap dan senyap pada permulaan migrain.
  5. Rawatan lain yang mungkin boleh menolong anda ialah refleksologi (urut saraf kaki). Petua orang-orang tua seperti basahkan bahagian bawah (iaitu dari kaki ke badan dan ke kepala) dahulu semasa anda mandi mungkin juga berkesan.
  6. Ketika anda sedang berbaring di atas katil, cuba turunkan kepala anda mencecah lantai. Dengan kata lain, letakkan kaki anda atas katil dan kepala mencecah lantai. Biarkan selama beberapa miniti. Rasionalnya, teknik ini adalah untuk menurunkan perjalanan darah ke kepala. Ini kerana salah satu punca migrain ialah kekurangan darah dan pada bahagian kepala.

 

PART 2 : STRESS 

Kebiasaannya apabila kita apabila ditimpa masalah atau mengalami tekanan perasaan, kita akan bersa serba tidak kena. Ada saja yang tidak sedap pada pandangan mata kita. Apa saja yang buat rasa tidak puas hati. Itu tandanya hati kita berserabut. Untuk hilangkan serabut di hati dan supaya pembaca sekalian ceria semula, jom ikuti petua islam di bawah ketika hati rasa berserabut. InysaAllah, lepas ini rasa serabut itu dapat dikurangkan.

1. Tarik Nafas

Ingat lagi bagaimana anda bersenam di waktu pagi semasa bersekolah dahulu? Ingat lagi bagaimana kita memulakan senaman dengan menarik nafas dengan kaedah yang betul? Gunakan teknik ini untuk mula mengosongkan fikiran anda.

2. Ambil Wudhuk

Mengambil wudhuk boleh menenangkan fikiran. Kembali kepada fitrah manusia dapat memantapkan lagi rohani kita dan air yang bersih boleh mengembalikan kita kepada fitrah kejadian. Air yang segar dapat memberi tenaga dan fokus yang diperlukan dan wajah akan pasti kembali ceria.

3. Tulis

Ada banyak perkara yang bermain di dalam fikiran anda. Anda perlu mengenalpasti apa sebenarnya yang anda fikirkan untuk membolehkan minda mengurus perkara-perkara ini. Cara yang paling mudah adalah dengan menulis satu-persatu apa yang anda sedang fikirkan. Jangan cuba untuk mengenalpasti kategori perkara-perkara ini dahulu, teruskan sahaja menulis.

4. Berkongsi Masalah

Jangan simpan permasalahan anda. Jika anda mempunyai kekasih atau seseorang yang penting dalam hidup anda, berkongsilah masalah anda dengan mereka. Mendengar masalah orang lain juga dapat membantu anda dalam menyelesaikan masalah anda sendiri. Kadang-kadang kita tidak sedar tentang sesuatu yang lebih baik sebagai jalan penyelesaian. Dengarlah dan berbicaralah dengan hati dan minda yang terbuka.

5. Cukup Rehat dan Tidur

Dengan memejamkan mata, atau memandang jauh ke arah kehijauan alam akan dapat memberi anda perasaan yang tenang. Tidur yang tidak cukup bermakna minda anda tidak mendapat rehat yang secukupnya. Sebab itu minda anda liar berfikir. Pejamkan mata untuk seketika di waktu rehat anda, atau keluar ambil angin dalam keadaan yang selesa dan positif.

6. Lepaskan

Anda risau tentang sesuatu? Anda rasa tidak puas tentang apa yang telah anda lakukan? Rasa marah? Berdendam? Tertekan? Cara yang paling mudah untuk mengosongkan fikiran yang berserabut adalah dengan mengalah dan melepaskan. Kita perlu menjadi seorang yang berjiwa mantap dan tegas dalam mengawal perasaan untuk membolehkan diri maju ke hadapan. Walaupun perasaan-perasaan ini adalah semulajadi, tetapi kebanyakannya adalah tidak menguntungkan.

 

PART 3 : RELEASE

Fakta menarik mengenai wanita, kajian daripada German Society of Ophthalmology dan dilaporkan dalam the telegraph pada 15 Oktober 2009, secara purata seorang wanita normal akan menangis di antara 30 hingga 64 kali dalam tempoh setahun, berbanding kaum lelaki yang hanya merekodkan 17 tangisan dalam tempoh setahun. Kalau diambil jumlah maksima 64 kali dan dibahagikan dengan 12 bulan dalam setahun, secara purata seorang wanita menangis sebanyak 5.3 kali sebulan dan jika dibahagikan pula dengan 30 hari dalam sebulan, seorang wanita akan menangis sebanyak 0.18 kali sehari.

Manakala kalau diambil jumlah maksima lelaki menangis 17 kali setahun dan dibahagikan 12 bulan, lelaki hanya menangis 1.42 kali sebulan. Di samping itu analisa tersebut juga mendapati purata wanita mengambil masa sehingga 6 minit untuk menangis berbanding lelaki hanya 2 hingga 4 minit.

Apakah faktor yang menyebabkan wanita menangis? satu persoalan yang begitu subjektif dan mempunyai ribuan jawapan mengikut persepsi masing-masing, namun berdasarkan carian dalam Askmen.com, lima faktor utama yang mempengaruhi emosi kaum wanita untuk menangis iaitu:

Hormon

 Perubahan hormon dalam badan wanita ketika datangnya haid memberikan reaksi kepada kestabilan emosi mereka menyebabkan perasaan menjadi sensitif dan mudah tersentuh, yang hanya dapat diluahkan melalui tangisan.

 

Manipulasi

Wanita mengetahui tangisan mereka merupakan senjata utama untuk menawan perasaan insan lain, terdapat di kalangan wanita yang menggunakan tangisan sebagai satu alat untuk memanipulasi pihak lain.

 

Emosi Keikhlasan

Sekiranya tangisan wanita tidak berkaitan perubahan hormon dan manipulasi, faktor yang membuat wanita menangis adalah sebagai ekspresi emosi yang penuh keihklasan dan kejujuran.

Kemarahan

Berbeza dengan lelaki yang cenderung menggunaka kekerasan fizikal untuk meluahkan perasaan amarah, kebanyakan wanita pula menggunakan tangisan untuk meluahkan perasaan marah yang tida terhingga terhadap sesuatu situasi.

Memori

Wanita juga, sebagai makhluk yang penuh emosi mempunyai keupayaan refleks yang tinggi terhadap memori dan kenangan-kenangan lama, sama ada kenangan indah atupun buruk dan ini diluahkan juga melalui tangisan.

Manakala dalam persepktif Islam pula, menurut Ibnu Qayyim – terdapt 10 jenis tangisan dalam dunia ini iaitu:

1. Menangis kerana kasih sayang & kelembutan hati;

2. Menangis kerana rasa takut;

3. Menangis kerana cinta;

4. Menangis kerana gembira;

5. Menangis kerana menghadapi penderitaan;

6. Menangis kerana terlalu sedih;

7. Menangis kerana terasa hina dan lemah;

8. Menangis untuk mendapat belas kasihan orang;

9. Menangis kerana mengikut-ikut orang menangis; dan

10. Menangis orang munafik – pura-pura menangis.

Sesungguhnya tangisan itu sendiri merupakan ciptaan dan kurniaan Allah S.W.T kepada makhluknya sebagaimana dijelaskan“..dan bahawasanya DIA lah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (AnNajm: 43)

Jadi, Allah lah yang menciptakan ketawa dan tangis, serta menciptakan sebab cetusnya. Banyak air mata telah mengalir di dunia ini. Ada pula tangisan sangat-sangat di puji dan di tuntut iaitu tangisan kerana menginsafi dosa-dosa yang silam atau tangis kerana takut akan azab dan siksa Allah.

Tangisan dapat memadamkan api Neraka “Rasulullah saw bersabda: Tidaklah mata seseorang menitiskan air mata kecuali Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Dan apabila air matanya mengalir ke pipi maka wajahnya tidak akan terkotori oleh debu kehinaan, apabila seorang daripada suatu kaum menangis, maka kaum itu akan di rahmati.Tidaklah ada sesuatupun yang tak mempunyai kadar dan balasan kecuali air mata. Sesungguhnya air mata dapat memadamkan lautan api neraka.”

Air mata taubat Nabi Adam a.s. Beliau menangis selama 300 tahun tanpa mendonggak ke langit tersangat takut dan hibanya terhadap dosa yang telah ia lakukan.Dia bersujud di atas gunung dan air matanya mengalir di jurang Serandip. Dari air matanya itulah Allah telah menumbuhkan pohon kayu manis dan pohon bunga cengkih. Beberapa ekor burung telah meminum akan air mata Adam lalu berkata, “Manis sungguh air ini.” Nabi Adam terdengar lalu menyangka burung itu mempersendakannya lalu ia memperhebatkan tangisannya.

Sempoi entry : Opss…Aku baru@sudah 21 tahun 5 bulan 15 hari…(^_^)


Bismillahirrahmanirrahim….

Luasnya rahmat Allah yang melimpahi hidupku selama ini, tapi terkadang aku lupa atas nikmat yang Allah kurniakan kepada diri ini..dushhh…manusia memang mudah lupa atas kebaikan yang telah dilimpahkan kepadanya…kerana asyik sibuk memikirkan kesusahan sedikit yang Allah beri untuk menguji iman kita…Astagfirrullahalazim…Banyakkan istigfar Hidayah…

Sepatutnya dalam usia begini, seharusnya aku memikirkan apa yang aku dah sumbangkan kepada islam,  mak , abah , adik2 , akak2, abang2 , sahabat2… dan sebagainya. Dalam usia yang masih muda ini aku sepatutnya merancang apa yang perlu aku lakukan pada masa akan datang dengan sebaiknya..dan tidak boleh terburu-buru..(ingat itu Hidayah). Abiskan belajar dulu, lepas dah grad ini, kenalah cari kerjaya yang sesuai untuk survive.. Hidup zaman sekarang ni bukan mudah, banyak persaingan di luar sana. Kalau tak kuat and tak determine..memang susahlah nak stay strong…

Kebiasaannya orang kalau nak grad ni , mesti fikir pasal jodoh, pastu dah mula gelabah, then mulalah nak cari calon kononnya… last2 jangan ‘tangkap muat’ sudah lah…(Oh, tidak aku tak nak camtu) .Lepas tu tak perlulah nak fikir sampai tertekan sana dan sini … Relax la Hidayah…[ You should stay cool].. (^_^).. muda lagi, banyak perkara yang boleh dilakukan lepas grad ni.. Laksanakan apa yang dah dirancang dulu… Nak tolong mak , abah, adik2… akak2 n abang2 xpayah la…hehe…

Financial kenalah mantap dulu, kalau dah boleh beli aset lagi bagus such as kereta idaman, rumah, tanah (paling penting kot) . Lepas tu jangan buat tak tau nak sumbang2 kan kepada j (untuk islam)…sebagai penyuci harta yang ada…Lepas Financial dah stabil..What next to do??? Kahwin…hmm..macam payah je benda ni, huhu… Maybe tunggu jela rasanya, Allah kan dah tetapkan jodoh untuk aku..Then I should just wait,rite?  Haa… bukan aku tak nak berusaha, tapi dah berusaha yang semampunya… Tapi nak cakapnya, jodoh ni kan, kalo bukan sampai masanya, kita carilah, sesungguh mana pon..99% tak melekat jodoh tu kat kita kalo belum masanya…

Kalo sebelum ni aku, dah banyak me’reject’ orang, tapi kalo aku pula di’reject’ sekarang…camne ye??? Sesungguhnya Allah itu Maha Adil…So, kenalah bersyukur kalo aku pon direject…=) … Besar hikmah nya ni…Subhanallah…Apa salahnya beri laluan kepada akak2 dan abang2 bina masjid dulu..hehe…And one more thing, sebenarnya  aku nak Hari Bahagia aku nati adalah yang terbaik..seperti  yang digariskan oleh Dr.Yusuf Al-Qaradawi mengenai perkahwinan yang sempurna…Jadi usah terburu2…=)

Yang penting sekarang , I need to focus on the thing that should be focus on now….

Finally , Bila baru@sudah berumur 21 tahun 5 bulan 15 hari ini, aku sepatutnya fikir perkara keburukan yang aku dah buat selama ini untuk diperbaiki… tidak perlulah fikir sangat kebaikan yang aku buat, sebab semua tu Allah yang menilai… Perbaiki dan pertingkatkan lah diri, Itu yang terbaik buat masa ini..

Bila tetiba jari merasa untuk menulis, lantas ini lah hasilnya..(^_^)

-Stay Tuned On the Right Track-

Wallahualam…

[ Entry ini tiada kaitan dengan yang hidup (orang lain) ataupun yang telah meninggal dunia, kerana entry ini adalah diri aku semata-mata…] 

Sincerely,

~ Pengembara Di JalanMU~

Demi Allah…Aku Semakin Tidak Berdaya


Bismillahirrahmannirrahim…

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang….

Tuhan yang mengetahui segala yang nyata dan ghaib…tuhan yang sentiasa mengasihi hamba2…

Demi sesungguhnya hidup ini memang tidak sunyi daripada ujian dan dugaan, lantas aku optimis menghadapinya. Tetapi sebagai manusia yang bernama Hamba, aku tidak lepas dari sifat lemah dan tidak berdaya… Di mana pada saat itu, hanya Allah sandaranku. Sampai satu tahap aku menemui jalan buntu dan terus buntu, hilang segala keyakinan yang selama ini mendiami hati. Entah kemana perginya keyakinan itu, tetapi bukan bermakna aku tidak redha dengan ketentuan Ilahi, cumanya hati ini perlukan masa untuk menghadamkan segala yang aku hadapi, agar hasil cernaannya sempurna mengikut kehendak Ilahi… Kadangkala hati terlalu merindu untuk bertemu dengan NYA, terasa ingin menceritakan segala apa yang aku rasa dan aku ingin berada dalam dakapan… Aku merasa tidak puas dengan hanya berbicara denganNYA setiap malam dalam tahajudku… Aku ingin menemuiNYA…itu sudah cukup membahagiakan bagi diriku…

Allahukbar…Allahuakbar… Allahuakbar…Berikanlah aku kekuatan…

Jangan kau biarkan aku tersungkur dalam pengembaraanku ini..Sambutlah diriku dan jagai hambaMU ini…

– Truly extracted from my deep heart-

Hapuskan air matamu wahai wanita…


“Apabila hati terikat dengan Allah, kembalilah wanita dengan asal fitrah kejadiannya, menyejukkan hati dan menjadi perhiasan kepada dunia – si gadis dengan sifat sopan dan malu, anak yang taat kepada ibu bapa, isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya pada suami.”

Bait-bait kata itu aku tatapi dalam-dalam. Penuh penghayatan. Kata-kata yang dinukilkan dalam sebuah majalah yang ku baca. Alangkah indahnya jika aku bisa menjadi perhiasan dunia seperti yang dikatakan itu. Ku bulatkan tekad di hatiku. Aku ingin menjadi seorang gadis yang sopan, anak yang taat kepada ibu bapaku dan aku jua ingin menjadi seorang isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami, kerana Allah.

Menjadi seorang isteri…. Kepada insan yang disayangi….. Idaman setiap wanita. Alhamdulillah, kesyukuran aku panjatkan ke hadrat Ilahi atas nikmat yang dikurniakan kepadaku.

Baru petang tadi, aku sah menjadi seorang isteri setelah mengikat tali pertunangan 6 bulan yang lalu. Suamiku, Muhammad Harris, alhamdulillah menepati ciri-ciri seorang muslim yang baik. Aku berazam untuk menjadi isteri yang sebaik mungkin kepadanya.

“Assalamualaikum,” satu suara menyapa pendengaranku membuatkan aku gugup seketika.

“Waalaikumusalam,” jawabku sepatah. Serentak dengan itu, ku lontarkan satu senyuman paling ikhlas dan paling manis untuk suamiku. Dengan perlahan dia melangkah menghampiriku.

“Ain buat apa dalam bilik ni? Puas abang cari Ain dekat luar tadi. Rupanya kat sini buah hati abang ni bersembunyi.”

Aku tersenyum mendengar bicaranya. Terasa panas pipiku ini. Inilah kali pertama aku mendengar ucapan ‘abang’ dari bibirnya.

Dan itulah juga pertama kali dia membahasakan diriku ini sebagai ‘buah hati’ nya. Aku sungguh senang mendengar ucapan itu. Perlahan-lahan ku dongakkan wajahku dan aku memberanikan diri menatap pandangan matanya.

Betapa murninya sinaran cinta yang terpancar dari matanya, betapa indahnya senyumannya, dan betapa bermaknanya renungannya itu. Aku tenggelam dalam renungannya, seolah-olah hanya kami berdua di dunia ini.

Seketika aku tersedar kembali ke alam nyata. “Ain baru je masuk. Nak mandi. Lagipun dah masuk Maghrib kan?” ujarku.

“Ha’ah dah maghrib. Ain mandi dulu. Nanti abang mandi dan kita solat Maghrib sama-sama ye?” Dia tersenyum lagi. Senyum yang menggugah hati kewanitaanku. Alangkah beruntungnya aku memilikimu, suamiku.

Selesai solat Maghrib dan berdoa, dia berpusing mengadapku. Dengan penuh kasih, ku salami dan ku cium tangannya, lama.

Aku ingin dia tahu betapa dalam kasih ini hanya untuknya. Dan aku dapat merasai tangannya yang gagah itu mengusap kepalaku dengan lembut. Dengan perlahan aku menatap wajahnya.

“Abang…..” aku terdiam seketika. Terasa segan menyebut kalimah itu di hadapannya. Tangan kami masih lagi saling berpautan. Seakan tidak mahu dilepaskan. Erat terasa genggamannya.

“Ya sayang…” Ahhh….bicaranya biarpun satu kalimah, amat menyentuh perasaanku.

“Abang… terima kasih atas kesudian abang memilih Ain sebagai isteri biarpun banyak kelemahan Ain. Ain insan yang lemah, masih perlu banyak tunjuk ajar dari abang. Ain harap abang sudi pandu Ain. Sama-sama kita melangkah hidup baru, menuju keredhaan Allah.” Tutur bicaraku ku susun satu persatu.

“Ain, sepatutnya abang yang harus berterima kasih kerana Ain sudi terima abang dalam hidup Ain. Abang sayangkan Ain. Abang juga makhluk yang lemah, banyak kekurangan. Abang harap Ain boleh terima abang seadanya. Kita sama-sama lalui hidup baru demi redhaNya.”

“Insya Allah abang…. Ain sayangkan abang.”

“Abang juga sayangkan Ain. Sayang sepenuh hati abang.”

Dengan telekung yang masih tersarung, aku tenggelam dalam pelukan suamiku.

Hari-hari yang mendatang aku lalui dengan penuh kesyukuran. Suamiku, ternyata seorang yang cukup penyayang dan penyabar. Sebagai wanita aku tidak dapat lari daripada rajuk dan tangis.

Setiap kali aku merajuk apabila dia pulang lewat, dia dengan penuh mesra memujukku, membelaiku. Membuatku rasa bersalah. Tak wajar ku sambut kepulangannya dengan wajah yang mencuka dan dengan tangisan.

Bukankah aku ingin menjadi perhiasan yang menyejukkan hati suami? Sedangkan Khadijah dulu juga selalu ditinggalkan Rasulullah untuk berkhalwat1 di Gua Hira’.

Lalu, ku cium tangannya, ku pohon ampun dan maaf. Ku hadiahkan senyuman untuknya. Katanya senyumku bila aku lepas menangis, cantik!

Ahhh…. dia pandai mengambil hatiku. Aku semakin sayang padanya. Nampaknya hatiku masih belum sepenuhnya terikat dengan Allah. Lantaran itulah aku masih belum mampu menyerahkan seluruh kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami.

“Isteri yang paling baik ialah apabila kamu memandangnya, kamu merasa senang, apabila kamu menyuruh, dia taat dan apabila kamu berpergian, dia menjaga maruahnya dan hartamu.”

Aku teringat akan potongan hadis itu. Aku ingin merebut gelaran isteri solehah. Aku ingin segala yang menyenangkan buat suamiku. Tuturku ku lapis dengan sebaik mungkin agar tidak tercalar hatinya dengan perkataanku. Ku hiaskan wajahku hanya untuk tatapannya semata-mata.

Makan minumnya ku jaga dengan sempurna. Biarpun aku jua sibuk lantaran aku juga berkerjaya. Pernah sekali, aku mengalirkan air mata lantaran aku terlalu penat menguruskan rumah tangga apabila kembali dari kerja. Segalanya perlu aku uruskan. Aku terasa seperti dia tidak memahami kepenatanku sedangkan kami sama-sama memerah keringat mencari rezeki.

Namun, aku teringat akan kisah Siti Fatimah, puteri Rasulullah yang menangis kerana terlalu penat menguruskan rumah tangga.

Aku teringat akan besarnya pahala seorang isteri yang menyiapkan segala keperluan suaminya. Hatiku menjadi sejuk sendiri.

Ya Allah, aku lakukan segala ini ikhlas keranaMu. Aku ingin mengejar redha suamiku demi untuk mengejar redhaMu. Berilah aku kekuatan, Ya Allah.

“Ain baik, cantik. Abang sayang Ain.” Ungkapan itu tidak lekang dari bibirnya. Membuatkan aku terasa benar-benar dihargai. Tidak sia-sia pengorbananku selama ini. Betapa bahagianya menjadi isteri yang solehah.

Kehidupan yang ku lalui benar-benar bermakna, apatah lagi dengan kehadiran 2 orang putera dan seorang puteri. Kehadiran mereka melengkapkan kebahagiaanku.

Kami gembira dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dikurniakan kepada kami.

Namun, pada suatu hari, aku telah dikejutkan dengan permintaannya yang tidak terduga.

“Ain….. Abang ada sesuatu nak cakap dengan Ain.”

“Apa dia abang?” tanyaku kembali. Aku menatap wajahnya dengan penuh kasih. “Ain isteri yang baik. Abang cukup bahagia dengan Ain. Abang bertuah punya Ain sebagai isteri,” bicaranya terhenti setakat itu. Aku tersenyum. Namun benakku dihinggap persoalan. Takkan hanya itu?

“Abang ada masalah ke?” Aku cuba meneka.

“Tidak Ain. Sebenarnya……,” bicaranya terhenti lagi. Menambah kehairanan dan mencambahkan kerisauan di hatiku. Entah apa yang ingin diucapkannya.

“Ain…… Abang….. Abang nak minta izin Ain…… Untuk berkahwin lagi,” ujarnya perlahan namun sudah cukup untuk membuat aku tersentak. Seketika aku kehilangan kata.

“A….. Abang….. nak kahwin lagi?” aku seakan tidak percaya mendengar permintaannya itu. Ku sangka dia telah cukup bahagia dengannku. Aku sangka aku telah memberikan seluruh kegembiraan padanya. Aku sangka hatinya telah dipenuhi dengan limpahan kasih sayangku seorang.

Rupanya aku silap. Kasihku masih kurang. Hatinya masih punya ruang untuk insan selain aku.

Tanpa bicara, dia mengangguk. “Dengan siapa abang?” Aku bertanya. Aku tidak tahu dari mana datang kekuatan untuk tidak mengalirkan air mata. Tapi…. hatiku… hanya Allah yang tahu betapa azab dan pedih hati ini.

“Faizah. Ain kenal dia, kan?”

Ya, aku kenal dengan insan yang bernama Faizah itu. Juniorku di universiti. Rakan satu jemaah. Suamiku aktif dalam jemaah dan aku tahu Faizah juga aktif berjemaah.

Orangnya aku kenali baik budi pekerti, sopan tingkah laku, indah tutur kata dan ayu paras rupa. Tidakku sangka, dalam diam suamiku menaruh hati pada Faizah.

“A…. Abang…… Apa salah Ain abang?” nada suaraku mula bergetar. Aku cuba menahan air mataku daripada gugur. Aku menatap wajah Abang Harris sedalam-dalamnya. Aku cuba mencari masih adakah cintanya untukku.

“Ain tak salah apa-apa sayang. Ain baik. Cukup baik. Abang sayang pada Ain.”

“Tapi….Faizah. Abang juga sayang pada Faizah…. bermakna….. sayang abang tidak sepenuh hati untuk Ain lagi.”

“Ain….. sayang abang pada Ain tidak berubah. Ain cinta pertama abang. Abang rasa ini jalan terbaik. Tugasan dalam jemaah memerlukan abang banyak berurusan dengan Faizah…. Abang tak mahu wujud fitnah antara kami.”

“Lagipun…. abang lelaki Ain. Abang berhak untuk berkahwin lebih dari satu.”

Bicara itu kurasakan amat tajam, mencalar hatiku. Merobek jiwa ragaku. Aku mengasihinya sepenuh hatiku. Ketaatanku padanya tidak pernah luntur. Kasih sayangku padanya tidak pernah pudar. Aku telah cuba memberikan layanan yang terbaik untuknya. Tapi inikah hadiahnya untukku?

Sesungguhnya aku tidak menolak hukum Tuhan. Aku tahu dia berhak. Namun, alangkah pedihnya hatiku ini mendengar ucapan itu terbit dari bibirnya. Bibir insan yang amat ku kasihi.

Malam itu, tidurku berendam air mata. Dalam kesayuan, aku memandang wajah Abang Harris penuh kasih. Nyenyak sekali tidurnya.

Sesekali terdetik dalam hatiku, bagaimana dia mampu melelapkan mata semudah itu setelah hatiku ini digurisnya dengan sembilu.

Tidak fahamkah dia derita hati ini? Tak cukupkah selama ini pengorbananku untuknya? Alangkah peritnya menahan kepedihan ini. Alangkah pedihnya!

Selama seminggu, aku menjadi pendiam apabila bersama dengannya. Bukan aku sengaja tetapi aku tidak mampu membohongi hatiku sendiri. Tugasku sebagai seorang isteri aku laksanakan sebaik mungkin, tapi aku merasakan segalanya tawar. Aku melaksanakannya tidak sepenuh hati.

Oh Tuhan….. ampuni daku. Aku sayang suamiku, tapi aku terluka dengan permintaannya itu.

Apabila bertembung dua kehendak, kehendak mana yang harus dituruti. Kehendak diri sendiri atau kehendak Dia ?

Pastinya kehendak Dia. Apa lagi yang aku ragukan? Pasti ada hikmah Allah yang tersembunyi di sebalik ujian yang Dia turunkan buatku ini. Aku berasa amat serba-salah berada dalam keadaan demikian.

Aku rindukan suasana yang dulu. Riang bergurau senda dengan suamiku. Kini, aku hanya terhibur dengan keletah anak-anak.

Senyumku untuk Abang Harris telah tawar, tidak berperisa. Yang nyata, aku tidak mampu bertentang mata dengannya lagi. Aku benar-benar terluka.

Namun, Abang Harris masih seperti dulu. Tidak jemu dia memelukku setelah pulang dari kerja walau sambutan hambar. Tidak jemu dia mencuri pandang merenung wajahku walau aku selalu melarikan pandangan dari anak matanya.

Tidak jemu ucapan kasihnya untukku. Aku keliru. Benar-benar keliru. Adakah Abang Harris benar-benar tidak berubah sayangnya padaku atau dia hanya sekadar ingin mengambil hatiku untuk membolehkan dia berkahwin lagi?

“Oh Tuhan… Berilah aku petunjukMu.” Dalam kegelapan malam, aku bangkit sujud menyembahNya, mohon petunjuk dariNya. Aku mengkoreksi2 kembali matlamat hidupku.

Untuk apa segala pengorbananku selama ini untuk suamiku? Untuk mengejar cintanya atau untuk mengejar redha Allah?

Ya Allah, seandainya ujian ini Engkau timpakan ke atas ku untuk menguji keimananku, aku rela Ya Allah. Aku rela.

Biarlah… Bukan cinta manusia yang ku kejar. Aku hanya mengejar cinta Allah. Cinta manusia hanya pemangkin. Bukankah aku telah berazam, aku inginkan segala yang menyenangkan buat suamiku?

Biarlah… Bukan cinta manusia yang ku kejar. Aku hanya mengejar cinta Allah. Cinta manusia hanya pemangkin. Bukankah aku telah berazam, aku inginkan segala yang menyenangkan buat suamiku?

Dengan hati yang tercalar seguris luka, aku mengizinkan Abang Harris berkahwin lagi. Dan, demi untuk mendidik hati ini, aku sendiri yang menyampaikan hasrat Abang Harris itu kepada Faizah.

Suamiku pada mulanya agak terkejut apabila aku menawarkan diri untuk merisik Faizah.

“Ain?…… Ain serius?”

“Ya abang. Ain sendiri akan cakap pada Faizah. Ain lakukan ini semua atas kerelaan hati Ain sendiri. Abang jangan risau… Ain jujur terhadap abang. Ain tak akan khianati abang. Ain hanya mahu lihat abang bahagia,” ujarku dengan senyuman tawar. Aku masih perlu masa untuk mengubat luka ini. Dan inilah satu caranya. Ibarat menyapu ubat luka. Pedih, tetapi cepat sembuhnya.

Aku mengumpul kekuatan untuk menjemput Faizah datang ke rumahku. Waktu itu, suamiku tiada di rumah dan dia telah memberi keizinan untuk menerima kedatangan Faizah. Faizah dengan segala senang hati menerima undanganku.

Sememangnya aku bukanlah asing baginya. Malah dia juga mesra dengan anak-anakku.

“Izah…… akak jemput Izah ke mari sebab ada hal yang akak nak cakapkan,” setelah aku merasakan cukup kuat, aku memulakan bicara.

“Apa dia, Kak Ain. Cakaplah,” lembut nada suaranya.

“Abang Harris ada pernah cakap apa-apa pada Faizah?”

“Maksud Kak Ain, Ustaz Harris?” Ada nada kehairanan pada suaranya. Sememangnya kami memanggil rakan satu jemaah dengan panggilan Ustaz dan Uztazah. Aku hanya mengangguk.

“Pernah dia cakap dia sukakan Izah?”

“Sukakan Izah? Isyyy…. tak mungkinlah Kak Ain. Izah kenal Ustaz Harris. Dia kan amat sayangkan akak. Takkanlah dia nak sukakan saya pula. Kenapa Kak Ain tanya macam tu? Kak Ain ada dengar cerita dari orang ke ni?”

“Tidak Izah. Tiada siapa yang membawa cerita…….” Aku terdiam seketika. “Izah, kalau Kak Ain cakap dia sukakan Izah dan nak ambil Izah jadi isterinya, Izah suka?” Dengan amat berat hati, aku tuturkan kalimah itu.

“Kak Ain!” jelas riak kejutan terpapar di wajahnya. “Apa yang Kak Ain cakap ni? Jangan bergurau hal sebegini Kak Ain,” kata Faizah seakan tidak percaya. Mungkin kerana aku sendiri yang menutur ayat itu. Isteri kepada Muhammad Harris sendiri merisik calon isteri kedua suaminya.

“Tidak Izah. Akak tak bergurau…… Izah sudi jadi saudara Kak Ain?” ujarku lagi. Air mataku seolah ingin mengalir tapi tetap aku tahan. Faizah memandang tepat ke wajahku.

“Kak Ain. Soal ini bukan kecil Kak Ain. Kak Ain pastikah yang…… Ustaz Harris….. mahu… melamar saya?”

Dari nada suaranya, aku tahu Faizah jelas tidak tahu apa-apa. Faizah gadis yang baik. Aku yakin dia tidak pernah menduga suamiku akan membuat permintaan seperti ini. Lantas, aku menceritakan kepada Faizah akan hasrat suamiku.

Demi untuk memudahkan urusan jemaah, untuk mengelakkan fitnah. Faizah termenung mendengar penjelasanku.

“Kak Ain….. saya tidak tahu bagaimana Kak Ain boleh hadapi semuanya ini dengan tabah. Saya kagum dengan semangat Kak Ain. Saya minta maaf kak. Saya tak tahu ini akan berlaku. Saya tak pernah menyangka saya menjadi punca hati Kak Ain terluka,” ujarnya sebak. Matanya ku lihat berkaca-kaca.

“Izah… Kak Ain tahu kamu tak salah. Kak Ain juga tak salahkan Abang Harris. Mungkin dia fikir ini jalan terbaik. Dan akak tahu, dia berhak dan mampu untuk melaksanakannya. Mungkin ini ujian untuk menguji keimanan Kak Ain.”

“Kak… Maafkan Izah.” Dengan deraian air mata, Faizah meraihku ke dalam elukannya. Aku juga tidak mampu menahan sebak lagi. Air mataku terhambur jua. Hati wanita. Biarpun bukan dia yang menerima kepedihan ini, tetapi tersentuh jua hatinya dengan kelukaan yang ku alami. Memang hanya wanita yang memahami hati wanita yang lain.

“Jadi… Izah setuju?” Soalku apabila tangisan kami telah reda.

“Kak Ain…. Ini semua kejutan buat Izah. Izah tak tahu nak cakap. Izah tak mahu lukakan hati Kak Ain.”
“Soal Kak Ain…. Izah jangan risau, hati Kak Ain… Insya Allah tahulah akak mendidiknya. Yang penting akak mahu Abang Harris bahagia. Dan akak sebenarnya gembira kerana Faizah pilihannya. Bukannya gadis lain yang akak tak tahu hati budinya. Insya Allah Izah.

Sepanjang Kak Ain mengenali Abang Harris dan sepanjang akak hidup sebumbung dengannya, dia seorang yang baik, seorang suami yang soleh, penyayang dan penyabar. Selama ini akak gembira dengan dia. Dia seorang calon yang baik buat Izah.”

“Akak….. Izah terharu dengan kebaikan hati akak. Tapi bagi Izah masa dan Izah perlu tanya ibu bapa Izah dulu.”

“Seeloknya begitulah. Kalau Izah setuju, Kak Ain akan cuba cakap pada ibu bapa Izah.”

Pertemuan kami petang itu berakhir. Aku berasa puas kerana telah menyampaikan hasrat suamiku. `Ya Allah….. Inilah pengorbananku untuk membahagiakan suamiku. Aku lakukan ini hanya semata-mata demi redhaMu.’

Pada mulanya, keluarga Faizah agak keberatan untuk membenarkan Faizah menjadi isteri kedua Abang Harris. Mereka khuatir Faizah akan terabai dan bimbang jika dikata anak gadis mereka merampas suami orang.

Namun, aku yakinkan mereka akan kemampuan suamiku. Alhamdulillah, keluarga Faizah juga adalah keluarga yang menitikberatkan ajaran agama. Akhirnya, majlis pertunangan antara suamiku dan Faizah diadakan jua.

“Ain….. Abang minta maaf sayang,” ujar suamiku pada suatu hari, beberapa minggu sebelum tarikh pernikahannya dengan Faizah.

“Kenapa?”

“Abang rasa serba salah. Abang tahu abang telah lukakan hati Ain. Tapi…. Ain sedikit pun tidak marahkan abang. Ain terima segalanya demi untuk abang. Abang terharu. Abang…. malu dengan Ain.”

“Abang…. Syurga seorang isteri itu terletak di bawah tapak kaki suaminya. Redha abang pada Ain Insya Allah, menjanjikan redha Allah pada Ain. Itu yang Ain cari abang. Ain sayangkan abang. Ain mahu abang gembira. Ain anggap ini semua ujian Allah abang.”

“Ain…. Insya Allah abang tak akan sia-siakan pengorbanan Ain ini. Abang bangga sayang. Abang bangga punya isteri seperti Ain. Ain adalah cinta abang selamanya. Abang cintakan Ain.”

“Tapi… Abang harus ingat. Tanggungjawab abang akan jadi semakin berat. Abang ada dua amanah yang perlu dijaga. Ain harap abang dapat laksanakan tanggungjawab abang sebaik mungkin.”

“Insya Allah abang akan cuba berlaku seadilnya.” Dengan lembut dia mengucup dahiku. Masih hangat seperti dulu. Aku tahu kasihnya padaku tidak pernah luntur. Aku terasa air jernih yang hangat mula membasahi pipiku. Cukuplah aku tahu, dia masih sayangkan aku seperti dulu walaupun masanya bersamaku nanti akan terbatas.

Pada hari pertama pernikahan mereka, aku menjadi lemah. Tidak bermaya. Aku tiada daya untuk bergembira. Hari itu sememangnya amat perit bagiku walau aku telah bersedia untuk menghadapinya.

Malam pertama mereka disahkan sebagai suami isteri adalah malam pertama aku ditinggalkan sendirian menganyam sepi. Aku sungguh sedih. Maha hebat gelora perasaan yang ku alami. Aku tidak mampu lena walau sepicing pun. Hatiku melayang terkenangkan Abang Harris dan Faizah. Pasti mereka berdua bahagia menjadi pengantin baru.

Bahagia melayari kehidupan bersama, sedangkan aku? Berendam air mata mengubat rasa kesepian ini. Alhamdulillah. Aku punya anak-anak. Merekalah teman bermainku.

Seminggu selepas itu, barulah Abang Harris pulang ke rumah. Aku memelukknya seakan tidak mahu ku lepaskan. Seminggu berjauhan, terasa seperti setahun. Alangkah rindunya hati ini. Sekali lagi air mata ku rembeskan tanpa dapat ditahan.

Kenapa sayang abang menangis ni? Tak suka abang balik ke?” ujarnya lembut.

“Ain rindu abang. Rindu sangat.” Tangisku makin menjadi-jadi. Aku mengeratkan pelukanku. Dan dia juga membalas dengan penuh kehangatan.

“Abang pun rindu Ain. Abang rindu senyuman Ain. Boleh Ain senyum pada abang?” Lembut tangannya memegang daguku dan mengangkat wajahku.

“Abang ada teman baru. Mungkinkah abang masih rindu pada Ain?” Aku menduga keikhlasan bicaranya.

“Teman baru tidak mungkin sama dengan yang lama. Kan abang dah kata, sayang abang pada Ain masih seperti dulu. Tidak pernah berubah, malah semakin sayang. Seminggu abang berjauhan dari Ain, tentulah abang rindu. Rindu pada senyuman Ain, suara Ain, masakan Ain, sentuhan Ain. Semuanya itu tiada di tempat lain, hanya pada Ain saja. Senyumlah sayang, untuk abang.”

Aku mengukir senyum penuh ikhlas. Aku yakin dengan kata-katanya. Aku tahu sayangnya masih utuh buatku.

Kini, genap sebulan Faizah menjadi maduku. Aku melayannya seperti adik sendiri. Hubungan kami yang dulunya baik bertambah mesra. Apa tidaknya, kami berkongsi sesuatu yang amat dekat di hati.

Dan, Faizah, menyedari dirinya adalah orang baru dalam keluarga, sentiasa berlapang dada menerima teguranku. Katanya, aku lebih mengenali Abang Harris dan dia tidak perlu bersusah payah untuk cuba mengorek sendiri apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh Abang Harris. Aku, sebagai kakak, juga sentiasa berpesan kepada Faizah supaya sentiasa menghormati dan menjaga hati Abang Harris. Aku bersyukur, Faizah tidak pernah mengongkong suamiku. Giliran kami dihormatinya.

Walaupun kini masa untuk aku bersama dengan suamiku terbatas, tetapi aku dapat merasakan kebahagiaan yang semakin bertambah apabila kami bersama. Benarlah, perpisahan sementara menjadikan kami semakin rindu. Waktu bersama, kami manfaatkan sebaiknya. Alhamdulillah, suamiku tidak pernah mengabaikan aku dan Faizah. Aku tidak merasa kurang daripada kasih sayangnya malah aku merasakan sayangnya padaku bertambah. Kepulangannya kini sentiasa bersama sekurang-kurangnya sekuntum mawar merah. Dia menjadi semakin penyayang, semakin romantik. Aku rasa aku harus berterima kasih pada Faizah kerana kata suamiku, Faizahlah yang selalu mengingatkannya supaya jangan mensia-siakan kasih sayangku padanya.

Memang aku tidak dapat menafikan, adakalanya aku digigit rindu apabila dia pulang untuk bersama-sama dengan Faizah. Rindu itu, aku ubati dengan zikrullah. Aku gunakan kesempatan ketiadaannya di rumah dengan menghabiskan masa bersama Kekasih Yang Agung. Aku habiskan masaku dengan mengalunkan ayat-ayatNya sebanyak mungkin. Sedikit demi sedikit kesedihan yang ku alami mula pudar. Ia diganti dengan rasa ketenangan. Aku tenang beribadat kepadaNya. Terasa diriku ini lebih hampir dengan Maha Pencipta.

Soal anak-anak, aku tidak mempunyai masalah kerana sememangnya aku mempunyai pembantu rumah setelah aku melahirkan anak kedua. Cuma, sewaktu mula-mula dulu, mereka kerap juga bertanya kemana abah mereka pergi, tak pulang ke rumah. Aku terangkan secara baik dengan mereka. Mereka punyai ibu baru. Makcik Faizah. Abah perlu temankan Makcik Faizah seperti abah temankan mama. Anak-anakku suka bila mengetahui Faizah juga menjadi ‘ibu’ mereka. Kata mereka, Makcik Izah baik. Mereka suka ada dua ibu. Lebih dari orang lain. Ahhh… anak-anak kecil. Apa yang kita terapkan itulah yang mereka terima. Aku tidak pernah menunjukkan riak kesedihan bila mereka bertanya tentang Faizah. Bagiku Faizah seperti adikku sendiri.

Kadang-kadang, bila memikirkan suamiku menyayangi seorang perempuan lain selain aku, memang aku rasa cemburu, rasa terluka. Aku cemburu mengingatkan belaian kasihnya itu dilimpahkan kepada orang lain. Aku terluka kerana di hatinya ada orang lain yang menjadi penghuni. Aisyah, isteri Rasulullah jua cemburukan Khadijah, insan yang telah tiada. Inikan pula aku, manusia biasa. Tapi….. ku kikis segala perasaan itu. Cemburu itukan fitrah wanita, tanda sayangkan suami.

Tetapi cemburu itu tidak harus dilayan. Kelak hati sendiri yang merana. Bagiku, kasih dan redha suami padaku itu yang penting, bukan kasihnya pada orang lain. Selagi aku tahu, kasihnya masih utuh buatku, aku sudah cukup bahagia. Dan aku yakin, ketaatan, kesetiaan dan kasih sayang yang tidak berbelah bahagi kepadanya itulah kunci kasihnya kepadaku. Aku ingin nafasku terhenti dalam keadaan redhanya padaku, supaya nanti Allah jua meredhai aku. Kerana sabda Rasulullah s.a.w

“Mana-mana wanita (isteri) yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya meredhainya, maka ia akan masuk ke dalam syurga.” (Riwayat-Tirmizi, al-Hakim dan Ibnu Majah).

Sungguh bukan mudah aku melalui semuanya itu. Saban hari aku berperang dengan perasaan. Perasaan sayang, luka, marah, geram, cemburu semuanya bercampur aduk. Jiwaku sentiasa berperang antara kewarasan akal dan emosi. Pedih hatiku hanya Tuhan yang tahu. KepadaNyalah aku pohon kekuatan untuk menempuhi segala kepedihan itu. KepadaNyalah aku pinta kerahmatan dan kasih sayang, semoga keresahan hati ini kan berkurangan.

Namun, jika aku punya pilihan, pastinya aku tidak mahu bermadu. Kerana ia sesungguhnya memeritkan. Perlukan ketabahan dan kesabaran. Walau bagaimanapun, aku amat bersyukur kerana suamiku tidak pernah mengabaikan tanggungjawabnya. Dan aku juga bersyukur kerana menjadi intan terpilih untuk menerima ujian ini.

Credit to : http://mardhatillah313.blogspot.com

Terletaknya JIWA di dalam RAGA…


Alhamdullilah…Dengan nikmat Islam & Iman kita masih lagi diberi kesempatan untuk menghirup udara yang segar untuk meneruskan perjuangan2 ke jalan kebenaran…

Apa pun yang kita usahakan ,bulatkan niat itu kerana Allah semata-mata & untuk mendapatkan keredhaan-NYA…

Niat di hati ingin mencoretkan serba sedikit ilmu untuk perkongsian bersama.Pernahkah kita terfikir mengapakah sesebuah negara yang begitu gah & hebat dalam pelbagai bidang tetapi sebaliknya mundur & ketinggalan dari aspek kemanusiaan.? Sama2lah kita berfikir sejenak…dn adakah kemajuan sesuatu negara hanya bergantung kpd fizikal shj..? tanpa memberi perhatian dr aspek emotion & spiritual qoutient(ESQ). Sedarlah sekiranya aspek ini diabaikan maka tiada dan akan berakhirlah penghidupan dalam erti kata sebenar.Bayangkanlah tiada keharmonian,kasih sayang antara insan dan sering bertelagah antara satu sama lain.

Lihatlah bagaimana situasi sebenar cara hidup di negara-negara Barat yang pesat membangun dan hebat daripada pelbagai aspek tetapi amatlah mundur dari aspek kemanusiaan. Berlakunya pembunuhan secara terbuka di mana-mana,gangguan seksual dan mental jarang sekali dapat dielakkan .Perompak dengan selesa menjalankan rutin hariannya bahkan tanpa ada sekelumit rasa takut dan gentar dalam hati mereka.Jalinan sosial antara masyarakat telah hilang nilai dan etikanya.Kelahiran anak-anak yang tiada dosa hasil daripada hubungan yang tidak mempunyai taraf yang sah.Perkahwinan bukan lagi memjadi syarat utama tetapi nafsu dan keinginan yang menguasai diri.Sebenarnya fenomena ini bukan sahaja berlaku di negara -negara barat bahkan negara kita sendiri.

Adakah anda memahami apakah yang dimaksudkan dengan ‘My Soul Body’ ?????

Keterangan yang ringkas mengenai konsep My Soul Body…

Konsep ini sebenarnya lebih menfokuskan kepada pembangunan diri,sahsiah dan rohani dalam diri seseorang.Menerangkan tentang pengawalan diri seseorang itu bukan hanya berpandukan pemikiran akal dan logik semata-mata.Terdapat banyak penyataan yang menyatakan bahawa segala perbuatan,percakapan,dan pemikiran kita dikoordinasikan oleh minda semata-mata. Tetapi sebenarnya kita telah membuat satu kesimpulan yang salah.

Imam Al-Ghazali dalam penulisannya menyatakan ;

Manusia sebenarnya dikawal penuh oleh seketul daging yang kemerah-merahan yang kita kenali sebagai jantung (heart).Tetapi masyarakat sering menyalahgunakan istilah (heart)yang sebenar.Pengertian Heart ialah jantung bukannya hati.Maka jantung ini telah ditiupkan roh ke dalamnya agar ia boleh berfungsi bukan sekadar untuk mengepam darah keseluruh badan tetapi juga untuk berperanan sebagai ‘leader’ dalam diri manusia secara ilusinya atau rohaninya.Ini kerana manusia sebenarnya mempunyai aspek lahiriah dan batinniah.Peranan jantung yang ingin ana tekan di sini bukanlah lahiriah tetapi secra batinniah.

ANALOGINYA…Konsep MY SOUL BODY..

Ibaratnya,jantung ini merupakan jeneral dalam sesebuah negara manakala otak/minda hanyalah perdana menteri yang menjalankan segala arahan yang diberikan oleh jeneral itu tdi..dan organ2 yang lain bertindak sebagai askar2 dan rakyat yang menurut segala kehendak jeneral tidak kira perkara itu baik atau buruk .Sekiranya  perkara itu baik maka seluruh rakyat n negara tersebut akan mendapat nikmat ganjaran akan tetapi jika perkara itu buruk maka rakyat dan negaranya jugalah yang akan binasa…..Jadi di sini saya ingin menyeru kpd semua , marilah bersama-sama kita melahirkan seorang  jeneral yang hebat dari pelbagai aspek kehidupan tanpa melanggari syariat yang telah ditetapkan..

Ini bermakna jiwa yang luhur dan suci akn menggerakkan seluruh pancaindera ke arah kebaikan dan terzahirlah segala kecantikan dan keindahan yang dimiliki dalam diri kita..

Saya ingin menekan sekali lagi apa yang telah dinyatakan oleh Iman Al-Ghazali, iaitu manusia dikawal sepenuhnya oleh jantung dari pelbagai aspek contohnya pemikiran.

Jadi ape yg ingin sy seru kepada diri dan sahabat2 ,,, marilah sama2 kita berusaha menyucikan serta menyuburkan hati-hati kita dengan kebaikan dan tauladan. Suburkanlah jiwa kita dengan ilmu yang bermanfaat dan tarbiah jiwa kita dengan segala kebaikan dan jauhi kejahatan…

harapan sya semoga  mesej yg cube sya smpaikan ini dpt di pahami dn di ambil pengajaran…..

WASSALAM…

Bagaimana KESEMPURNAAN kita untuk kesempurnaan dia?


“Wahai manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)nya; dari keduanya Allah mengembangbiakkan lelaki dan perempuan yang banyak. Bertaqawalah kepada Allah dengan nama-Nya yang kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan kekeluargaa. Sesungguhnya Allah selalu menjaga  dan mengawasimu.”


(an-Nisa : 1)

“Wahai para pemuda, sesiapa di antara kamu yang mampu untuk bernikah, maka hendaklah dia bernikah, kerana sesungguhnya menikah itu dapat (lebih)memejamkan pandangan, dan menjaga kemaluanSesiapa yamg belum mampu bernikah, maka hendaklah dia berpuasa, kerana berpuasa adalah pencegah daripada nafsu syahwat”

 (hadits riwayat Bukhari dan Muslim)

Mutakhir ini aku melihat seolah-olah telah berlaku sebuah revolusi yang baru di kalangan anak muda khususnya dalam kalangan warga IPT untuk merobah satu anjakan paradigm untuk berkahwin muda  walaupun banyak lagi revolusi anak muda yang berlaku pada hari ini.

Tidak dapat tidak kita nafikan bahawa setiap manusia punyai niat mahu pun keinginan untuk berkongsi hidup bersama dengan pasangan pilihan mereka. Itulah nikmat kurniaan Allah swt kepada hamba dan makhluk ciptaanNya, sama ada alam sekeliling mahu pun hewan.

 “Dan bukankah Kami(Allah) ciptakan kamu berpasang-pasangan?”

(An-Naba’:8)

Namun apakah dengan berkahwin muda ini atau lebih dikenali dengan istilah yang lebih islamic ini dengan Nikah Khitbah dapat menyelasaikan keserabutan dan kemobrokan akhlak dalam masyarakat pada hari ini?

Saban hari kita dipaparkan dengan pelbagai statistic yang kadang kala begitu memeranjatkan kita. Terkini daripada statisktik yang dicatatkan oleh MALAYSIA tanah tumpah darahku, statistic menunjukkan setiap 4 jam berlakunya keh penceraian dalam perkahwinan, setiap 3 minit pula lahirnya anak zina, setiap 15 minit pula berlakunya masalah perkosa. Ini adalah dalam bentuk MINIT. Bukan harian atau pun bulanan atau Tahunana

Dalam paparan Wall Facebook yang hampir mustahil setiap di antara kita memilinya, mungkin ada yang tidak memikinya namun terlalu sedikit jumlahnya, “post” tentang perkahwinan begitu “hot” dan menjadi antara “most hot n hit topics” setiap hari.

Di sini aku hamparkan sedikit pandagan yang berbeda daripada kebanyakan yang lain, bukan untuk meaih simpati apatah lagi mencari popularity tapi sekadar untuk kita bersama renungi.

Jangan terlalu mengharap kepada pasangan untuk menjadi merubah masa depan kehidupan yang lebih baik dan sempurna. Ramai yang memanifistasikan pernikahan sebagai antara salah satu turning point terbesar dalam kehidupan untuk menulusuri kehidupan mendatang. Jangan terlalu berharap kepada kesempurnaan pasangan untuk diri sendiri, tapi persiap siagakanlah kesempurnaaan diri untuk kesempurnaan hidup berpasangan.

Jika sudah terpasak niat untuk melayari bahtera kehidupan dengan pasangan.

Bagaimanakah dengan persiapan diri sendri?

Bagaiamanakah kita menjaga hubungan dengan sang Pencipta kita dalam mendirikan asas kehidupan sebagai seorang muslim antaranya dalam mendirikan 5 tiang agama kehidupan kita (solat)?

Adakah kita selama ini sudah tepati masa dan menjaga solat kita dengan sebaiknya sebelum kita hendak menjaga solat pasangan hidup kita?

Adakah selama ini tanggungjawab kita sebagai seorang anak kepada orang tua sudah terlunas segalanya sebelum kita sedia menggalas taggungjawab sebagai seorang anak kepada orang tua pasangan kita walaupun tugas ini adalah lebih besar dan berat bagi lelaki?

Adakah kita sudah mampu untuk mengawal selia dan mengurus tadbir harta dan urusan kita sebaik mungkin sebelum kita bersedia untuk mengawal selia dan mengurus tadbir urusan dan harta pasangan kita?

Adakah sudah cukup kuat pegangan AGAMA asas khusunya dalam perkara asas AGAMA yang berkait rapat dengan Aqidah, rukun ISLAM, rukun IMAN dan perkara lainnya pada diri kita sudah cukup utuh sebelum kita ingin menjadi tonggak rujukan kepada pasangan kita?

Jika kita persoalkan 1001 persoalan seperti ini, belum tentu 1 jawapan yang kukuh dapat diberikan (peringatan untuk diri sendiri sangat-sangat khususnya)

Ingatlah wahai sahabatku, benar PERNIKAHAN itu menjanjikan kenikmatan dan kebahagiaan dalam melari bahtera kehidupan berpasangan, namun disebalik usainya aqad nikah dan lafaz janji perkahwinan itu secara tersurat dan tersiranya tersembunyi 1001 tanggungjawab dan tugas yang lebih besar menanti. Namun adakah kita semua tersedar dan membuat persiapan sebaiknya tentang hal keadaan ini?

Bagi yang sudah mendirikan rumah tangga itu, semoga PERKAHWINAN itu menjadi satu titik turning point menuju kematangan dalam hidup dan puncak kebahagiaan dalam kehidupan sama ada kehidupan yang sementara ini mahu pun kehidupan yang kekal abadi.

 

Bagi yang masih belum memiliki pasangan hidup, pertimbangkanlah dengan kewarasan dan kecerdikan akal ini dalam menilai sesebuah keputusan yang besar dalam menempuh kehidupan mendatang.

SESIAPA YANG TIDAK MELALUINYA TIDAK AKAN MERASAINYA

Sebagai peringtan dan renungan bersama..

Tepuk dada, tanya IMAN, soal PERSEDIAAN , moga semuanya dalam limpahan nikmat kurniaanNYA dan meraih keredhaan-NYA dalam segala aspek kehidupan :)

credit to : http://madahannan.wordpress.com

 

THE APPROPRIATE AGE FOR MARRIAGE & CHOOSING THE RIGHT HUSBAND


Question 1:

What is the appropriate age for men and women to marry? Some of the young ladies of today do not accept to be married to men older than them and also some of the men do not get married from anyone older than them either. We hope for a response, may Allaah reward you.

Response 1:

I advise the young ladies not to refuse a man because of his older age. Even if he be ten, twenty or thirty years older, this is not a valid excuse.

The Prophet (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) married ‘Aa.ishah when he was fifty-three years old and she was nine years old. Older age is not harmful. There is no problem if the woman is older than the man and there is no problem if the man is older than the woman.

The Prophet (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) married Khadijah when she was forty years old and he was twenty-five years old, before he received his first revelation. That is, she was fifteen years older than him (may Allaah be pleased with her). And ‘Aa.ishah was married when she was a young lady of six or seven years and the Prophet (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) consummated the marriage when she was nine years old and he was fifty-three years old.

Many of those who talk on the radio or television and speak against having disparaging ages between husband and wife are wrong. It is not permissible for them to say such things. Instead, what must be done, is the woman must look at the prospective husband and, if he be pious and appropriate, she must agree to him even if he is older than her. Similarly, the man must try to marry a woman who is pious and virtuous, even if she is older than him, especially if she is still less than mid life. In any case, age should not be taken as an excuse. It should also not be considered a shortcoming, as long as the man is pious or the woman is pious.

May Allaah make the affairs good for everyone.

Question 2:

What are the most important considerations a young lady should make when choosing a husband? If she refuses someone simply for economic or worldly reasons, will that expose her to the punishment of Allaah?

Answer 2 :

The most important attributes that a woman must look for in selecting a husband are character and piety. Wealth and lineage are secondary considerations. The most important aspect is that the proposed groom be a person of piety and proper behavior. The person of proper behaviour and piety will not do his wife wrong. Either he will keep her in a way that is proper or he will leave her to go free in the best way.

Furthermore, the person of religion and behavior may be a blessing for her and her children. She may learn manners and religion from him. If he does not have those characteristics, she should stay away from him, especially if he is one of those who is lax with respect to performing the prayers or if he is known to drink alcohol, may Allaah save us. As for those who never pray, they are disbelievers. Believing women are not permissible for them nor are they permissible for the believing women. The important point is that the woman should stress character and piety. If he is also of a noble lineage, that is to be preferred. This is due to the Messenger of Allaah’s (sal-Allaahu `alayhe wa sallam) statement:

«If a person whose religion and character you approve of comes to you, then marry him».

However, if he is also suitable [in other ways, such as economics standing and so forth], that is better.

Shaykh Ibn ‘Uthaymeen
Fataawa al-Mar.ah

* credit to http://www.islamicemirate.com

Bersuara atau Diam?


Assalammualaikum dan salam sejahtera…

Sekadar peringatan peringatan untuk diri sendiri dan semua..Mengapa saya memilih tajuk ini kerana saban hari kita akan dapat melihat betapa ramainya manusia akan lantang bersuara menyatakan pandangan dan pendapat masing-masing. Semua merasakan mereka ada di pihak yang betul…bila kebenaran semakin hampir maka akan ramai pula orang-orang munafik yang akan muncul…fikir-fikir dan renung-renungkan…

Waallahulam…semuanya adalah dalam penguasaan ilmu Allah SWT.

 

Diriwayatkan daripada Abu Syuraih al-Khuza’iy r.a katanya:
Nabi s.a.w b’sabda: Sesiapa yg b’iman kpd Allah & Hari Akhirat, maka hendaklah dia b’buat baik kpd jiran tetangganya. Sesiapa yg beriman kpd Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia memuliakan para tetamunya. Sesiapa yg beriman kpd Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia bercakap hanya p’kara yg baik atau diam.
Sedikit Penerangan Hadis ini (jika kurang mohon diperbetulkan) :
Mengenal Manusia
Allah SWT memiliki suatu sifat dan akhlaq yang sebenarnya amat akrab dengan kehidupan manusia. Iaitu mustahil bagi Nya berbuat perkara yang sia-sia, tanpa tujuan, ataupun mengandungi kesalahan. Kalaupun ada penciptaan atau kejadian yang tampak kejam, ia hanyalah bersifat sementara.
Ertinya, jika dilihat dan diteliti, akhirnya ia akan membuktikan bahawa di sebalik kejadian itu semua ternyata mengandung nilai-nilai kebenaran. Dan dalam hal ini, manusia memang harus banyak melihat sejarah hidupnya secara peribadi mahupun sejarah kemanusiaan itu sendiri, tujuan ia diciptakan, ke mana destinasinya dan sebagainya.

Akhlaq tersebut amat akrab dengan kita kerana ia tercermin di mana sahaja kita melihat. Pantulannya boleh dilihat kepada sesiapa yang ingin melihat. Sulit bagi kita untuk menyebutkan suatu makhluq atau kejadian alam yang diciptakan tanpa ada gunanya.

Seolah semua menyiratkan bahawa Allah SWT menciptakan ini untuk sebuah tujuan. Bukan sekadar permainan tanpa arah. Firman Nya:

“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (38: 27)

Tujuan Hidup
Saya ambil satu contoh , misalnya kejadian seekor nyamuk pun ternyata begitu penting di mata Allah, sehingga disebutkan di al-Quran. Firman Nya:
“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, Adapun orang-orang beriman mereka tahu bahawa itu adalah al-haq(kebenaran) dari Rabb mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan:”Apakah maksud Allah menjadikan perumpamaan ini?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Tetapi tidak ada yang disesatkan Allah selain orang-orang yang fasik.” (2: 26)
Tetapi kenapa manusia sentiasa kebingungan mencari dan mengenalpasti fungsinya? Kenapa kita senantiasa tertanya-tanya tentang tujuan keberadaan kita di muka bumi ini? Kenapa diri manusia dipenuhi sikap-sikap ketidaktahuan akan fungsinya? Apakah mungkin kita hidup tanpa tujuan yang jelas, kukuh dan konkrit?

Tidak mungkin!
Allah SWT menjadikan seekor nyamuk pun ada manfaat dan fungsinya. Bahkan sejak lahir mereka sudah tahu apa yang harus dibuat dan apa fungsi yang harus dijalankan.

Kerana itu amat mustahil, bila susuk tubuh insan yang Allah khabarkan diciptakan dalam ‘ahsani taqwim’ (pembentukan yg paling sempurna), dilahirkan hanya untuk sia-sia dan tanpa tujuan.
Apa mungkin seorang manusia lahir hanya untuk membesar dewasa, berkeluarga, dan mati?

Sesungguhnya pada manusia itulah tugas yang amat berat dipikul tambahan pula ia sebagai wakil Allah SWT di atas muka bumi ini, untuk mentadbir alam. Ingat, langit, bumi, gunung-ganang, bukit-bukau semuanya tidak sanggup membawa amanah Allah, kecuali manusia yang menyatakan kesanggupannya.

Justeru, manusia perlu berhati-hati dalam melaksanakan tanggungjawab ini supaya tidak tergolong di dalam manusia yang berbuat kezaliman dalam kejahilan.

Lebih baik diam dari mengomen perkara yang kita tidak tahu. Tidaklah nanti dikata orang, hanya berani dibelakang, tetapi bila diajak bermuzakarah, berdiskusi, batang hidung pun tidak kelihatan.

 

%d bloggers like this: